Sosialisasi dan Pengenalan Kurikulum Prototipe, Kurikulum Baru Untuk Memulihkan Learning Loss

Sosialisasi-dan-Pengenalan-Kurikulum-Prototipe-Kurikulum-Baru-Untuk-Memulihkan-Learning-Loss
Sosialisasi dan Pengenalan Kurikulum Prototipe, Kurikulum Baru Untuk Memulihkan Learning Loss

Sangkolan.com – Kurikulum Prototipe mulai disosialisasikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Lantas apa itu Kurikulum Prototipe ?. Kurikulum Prototipe adalah Kurikulum yang diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa di rentang tahun 2019 – 2021 ini pembelajaran terasa kurang maksimal karena terkendala dengan wabah Covid-19.

Berikut adalah perjalanan dan latar belakang tercetusnya Kurikulum Prototipe.

Mengenal Lebih Dekat Kurikulum Prototipe, Kurikulum Baru Penerus Kurikulum 2013
Mengenal Lebih Dekat Kurikulum Prototipe, Kurikulum Baru Penerus Kurikulum 2013

Kerangka Kerja Evaluasi Kurikulum 2013 ini berdasarkan pada Evaluasi yang telah dilakukan merupakan hasil kompilasi berbagai kajian, penelitian, dan monev yang dilakukan berbagai pihak, antara lain Puskurjar, Direktorat terkait, dan berbagai Perguruan Tinggi.

 

Adapun hasil dari Evaluasi Dokumen Kurikulum 2013 ini didapatkan;

  1. Kompetensi Kurikulum 2013 terlalu luas, sulit dipahami, dan diimplementasikan oleh guru.
  2. Kurikulum yang dirumuskan secara nasional belum disesuaikan sepenuhnya oleh satuan pendidikan dengan situasi dan kebutuhan satuan pendidikan, daerah, dan peserta didik.
  3. Mapel informatika bersifat pilihan, padahal kompetensi teknologi merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh peserta didik pada abad 21.
  4. Pengaturan jam belajar menggunakan satuan minggu (per minggu) tidak memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk mengatur pelaksanaan mata pelajaran dan menyusun kalender pendidikan. Akibatnya, kegiatan pembelajaran menjadi padat.
  5. Pendekatan tematik (jenjang PAUD dan SD) dan mata pelajaran (jenjang SMP, SMA SMK, Diktara, dan Diksus) merupakan satu-satunya pendekatan dalam Kurikulum 2013 tanpa ada pilihan pendekatan lain.
  6. Struktur kurikulum pada jenjang SMA yang memuat mata pelajaran pilihan (peminatan) kurang memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih selain peminatan IPA, IPS, atau Bahasa. Gengsi peminatan juga dipersepsi hirarkis.
  The A-Z of a Successful Trader

 

Adapun hasil dari Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 ini didapatkan 
  1. Komponen perangkat pembelajaran terialu banyak dan menyulitkan guru dalam membuat perencanaan.
  2. Rumusan kompetensi yang detil dan terpisah-pisah sulit dipahami sehingga guru kesulitan menerjemahkan dalam pembelajaran yang sesuai filosofi Kurikulum 2013.
  3. Strategi sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring implementasi Kurikulum 2013 belum terlaksana secara tepat dan optimal, belum variatif, belum sesuai dengan kebutuhan, dan belum efektif. Contoh kendala: sosialisasi tidak sampai langsung kepada tingkat gugus, pemilihan instruktur ditetapkan sentralistik sehingga tidak sesuai kebutuhan, dan pelatihan masih dilakukan secara konvensional dengan ceramah yang cenderung teoretik.
  4. Masih banyak pengawas, kepala sekolah, dan guru yang memiliki pemahaman kurang tentang kerangka dasar, diversifikasi, dan konsep implementasi Kurikulum 2013.
  5. Sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring implementasi Kurikulum 2013 belum berdampak optimal terhadap pemahaman pengawas, kepala sekolah, dan guru, kemampuan dan kinerja guru, serta peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
Kurikulum prototipe sejatinya melanjutkan arah pengembangankurikulum sebelumnya:
  • Orientasi holistik: kurikulum dirancang untuk mengembangkan murid secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan non-akademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.
  • Berbasis kompetensi, bukan konten: kurikulum dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu.
  • Kontekstualisasi dan personalisasi: kurikulum dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan murid.
Kurikulum prototipe mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar.
Kurikulum prototipe memiliki beberapa karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran:
  1. Pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter (iman, taqwa, dan akhlak mulia; gotong royong; kebinekaan global; kemandirian; nalar kritis; kreativitas).
  2. Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
  3. Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.
Untuk lebih memahami dan mengenal lebih dekat Kurikulum Prototipe, silahkan unduh file salinan Materi Sosialisasi Kurikulum Prototipe pada link yang sudah kami sediakan di bawah ini.
Demikian kabar terbaru dari kami mengenai Mengenal Lebih Dekat Kurikulum Prototipe, Kurikulum Baru Penerus Kurikulum 2013. Semoga Bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.